Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rembulan Tenggelam di Wajahmu: Tuhan Menjawab Pertanyaanmu dengan Caranya


Entah sudah berapa film yang saya tonton diadaptasi dari buku. Biasanya saya tonton film yang diadaptasi dari buku-buku dengan penulis yang saya gemari. Namun, tidak dengan kali ini. Saya pun agak kurang percaya bahwa saya menonton film yang diadaptasi dari novel karya Tere Liye. Harus saya akui,  sampai sekarang saya belum pernah membaca karya-karya Tere Liye yang sangat populer dan laris bak kacang goreng itu.

Sekadar cerita saja ya, gara-gara terbius dengan film Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Saya dengan sengaja terbang ke Semarang khususnya mengunjungi Kota Lama kawasan Semarang demi mencari sudut-sudut yang menjadi lokasi pengambilan gambar film tersebut. Beberapa sudut yang saya temukan di antaranya sudut yang menjadi tempat para preman dan Ray adu pukul yang letaknya dekat dengan akar pohon beringin, lalu saya menemukan lokasi pengambilan gambar ketika Ray dan Natan mengamen di angkutan kota, dan hingga kini saya masih dibuat penasaran dengan gedung bertingkat empat puluh yang kemungkinan menyulap gedung Asuransi Jiwa Sraya menjadi gedung bertingat empat puluh karena di situ terdapat adegan Ray dan Bang Ape memanjat gedung super tinggi hingga terlihat langit malam Kota Semarang yang indah. Kemudian saat perjalanan menuju Tembalang, tanpa sengaja saya menemukan sebuah rumah yang sangat mirip dengan bentuk rumah singgah dalam film tersebut. Saya semakin yakin rumah unik bergaya kuno itu rumah singgah Ray karena adik saya pun beranggapan demikian. Tinggal mencari rumah yang dijadikan sebagai panti asuhan Ray nih~

Awal mendengar judul “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” sudah bisa disaksikan di bioskop. Dengan lancangnya saya menduga bahwa film ini akan berkisah tentang romantisme. Akan tetapi dugaan saya tersebut terbantahkan ketika menonton cuplikan trailer filmnya. Ditambah dengan ulasan-ulasan pakar sinema dari kanal youtube membuat saya sempat ragu karena jumlah penontonnya yang sedikit. Namun akhirnya diiringi drama hujan yang tidak kunjung reda, berangkatlah saya menuju bioskop.

Di awal film, kita akan disambut oleh rembulan dari kaca jendela Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Seorang pria berusia berusia 60 tahun yang diperankan Arifin Putra nampak terbaring tak berdaya dengan banyak selang dan peralatan medis mengalir ke tubuhnya. Dalam kenyataan, kondisi ini dialami oleh manusia yang koma atau menghadapi sakaratul maut. Pada kondisi itulah, datang seorang pria berkemeja memanggil nama laki-laki berusia 60 tahun itu, “Rayhan.. Rayhan..”

Pria berkemeja yang diindikasi sebagai malaikat utusan Tuhan itu berhasil membangunkan Rayhan dan mengajaknya untuk menjawab lima pertanyaan besar yang sering diajukan Rayhan pada Tuhan selama hidupnya.

Pertanyaan pertama membawa Rayhan bersama si malaikat ke suatu wilayah pelabuhan yang saya yakin lokasinya berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sebab salah satu dari banyak faktor menonton film ini adalah karena lokasi syutingnya di Kota Semarang. Hehehe. Penonton akan dibawa ke perjalanan masa lalu Rayhan, Panti Asuhan tempat Rayhan dibesarkan.      

Rayhan memiliki keluarga di Panti Asuhan di antaranya pemilik panti yang dipanggilnya Bapak dan anak-anak panti lain yang usianya di bawah dirinya yang dianggapnya sebagai adik. Di panti asuhan tersebut, Rayhan memiliki kawan baik bernama Diar yang sehari-harinya bekerja sebagai penjaga WC umum.  Saya menyimpulkan karakter Diar ini 180 derajat berkebalikan dari Rayhan.  Dari adegan awal saja digambarkan Rayhan merampas makanan dari seorang wanita bergelang emas dan membaginya kepada Diar untuk buka puasa, tetapi Diar menolak karena menganggapnya sebagai barang tidak halal. Diar digambarkan sebagai muslim yang taat, berbeda dengan Rayhan yang digambarkan sebagai manusia yang masih dalam proses pencarian Tuhan. Berulang kali ketika Diar mengajak Rayhan beribadah, Rayhan selalu menolak dengan mengatakan, “Tolong tanyakan pada Tuhan, kenapa Dia menaruhku di panti asuhan ini?” Pertanyaan tersebut berulang kali ditanyakan Rayhan pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.

Dalam cerita ini, tidak ada karakter yang digambarkan sempurna. Rayhan sang tokoh utama digambarkan memiliki karakter remaja bengal yang jago berkelahi dan tidak takut pada apapun, namun di dalam hatinya ia sangat peduli pada orang-orang terdekatnya. Selain itu, sebut saja si pemilik panti asuhan yang biasa dipanggil bapak. Orang lain mungkin akan menilai bapak sebagai orang yang mulia karena menampung dan membesarkan anak-anak di panti asuhan binaannya, tetapi tidak ada yang menyangka bahwa tokoh bapak selalu menyembunyikan donasi dari donatur. Anak-anak panti asuhan diberikan makan seadanya dan tidak diberikan haknya. Itulah mengapa saya bilang karakter tokoh di cerita ini tidak sepenuhnya sempurna. Sama halnya seperti manusia biasa pada umumnya. Tidak ada yang benar-benar sempurna. Setiap manusia memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing. Maka tiada bijak bila kita sesama manusia merasa paling benar daripada manusia lainnya, merasa paling pantas hingga menghakimi manusia lainnya. Satu-satunya yang sempurna hanyalah Dia Yang Maha Sempurna.

Tidak heran bila Rayhan kerap mempertanyakan “Apakah Tuhan itu adil?” Perjalanan hidup Rayhan sejak remaja yang diperankan Bio One ini memang penuh perjuangan dan air mata. Sejak bayi ia telah terpisah dari kedua orang tuanya hingga akhirnya ia dibesarkan oleh bapak panti asuhan bersama istrinya yang kini telah meninggal. Kemalangan yang dialami Rayhan sepeninggal bunda (pemilik panti asuhan) membuatnya menjadi sosok remaja yang tak terkendali. Pertanyaan “mengapa Tuhan menitipkan Rayhan di panti asuhan?” selalu ia tanyakan. Hingga pada akhirnya ada suatu konflik yang menyebabkan ia harus meninggalkan panti asuhan.

Perjalanan hidupnya kian rumit setelah ia meninggalkan panti asuhan. Rayhan semakin tidak terkendali. Hingga pada akhirnya ia menemukan jejak bukti riwayat hidupnya bahwa ia terpisah dari orang tuanya akibat kebakaran. Kedua orang tuanya meninggal yang membuatnya menjadi sebatang kara. Bukti berupa secarik kertas koran itu selalu ia simpan di dalam saku celananya.

Peristiwa-peristiwa getir Rayhan alami dari mulai kematian Diar sahabatnya akibat ulah Rayhan yang menyebabkan bapak panti asuhan menitipkan Rayhan ke rumah singgah di tengah kota. Rayhan mulai merasa menemukan sedikit kebahagiaan di rumah singgah tersebut berkat teman-teman barunya. Hingga pada suatu ketika ada kejadian yang membuatnya harus berurusan dengan preman-preman. Padahal tujuannya mulia, Rayhan ingin menolong Ilham (sahabat barunya di rumah singgah) yang menangis karena lukisan karyanya dirusak oleh kawanan preman tersebut. Akibat kejadian itu, Rayhan dan orang-orang di sekelilingnya terus diawasi oleh para preman itu. Bahkan mengakibatkan ia keluar masuk penjara karena berurusan dengan polisi karena membuat onar di tempat umum. Masalah-masalah yang tak berujung itu membuatnya ia kerap merenungi hidupnya. Kebiasaan itu kerap dilakukan di atas tower air. Ia naik ke atas tower pada malam hari. Dari atas towerlah Rayhan bisa melihat wajah rembulan lebih dekat. Barangkali hal itulah yang membuat hatinya tenang.

Kebiasaan anehnya itu ternyata diam-diam diperhatikan oleh Bang Ape, seorang preman berhati baik. Melihat kegesitan Rayhan atau Ray memanjat tower air yang sangat tinggi tanpa rasa takut membuat kagum Bang Ape. Ia mengajak Ray melakukan misi bersama dengan risiko yang besar yakni mencuri berlian di gedung lantai 40, gedung tertinggi di kota tersebut yang dijaga sangat ketat.

Peristiwa tertembaknya Ray dalam usaha pencurian barang berharga di gedung tinggi itu perlahan menjawab teka-teki pertanyaan Rayhan selama ini pada Tuhan. Tanpa sengaja Bang Ape menemukan secarik kertas koran yang berisi berita kebakaran yang terjadi belasan tahun silam. Ia tiba-tiba mengingat suatu peristiwa dalam hidupnya. Ia teringat bayi yang ia selamatkan dari kobaran api yang dibakarnya sendiri. Bang Ape tertegun bahwa pemuda yang tengah terkapar terkena peluru itu adalah bayi yang ia selamatkan waktu itu. Bayi itu kini telah menjadi pemuda yang berani dan kerap mempertanyakan ketidakadilan hidup.

Tanpa terasa air mata jatuh dari matanya. Bang Ape lantas memutuskan menyerahkan diri ke polisi dengan tetap menyembunyikan Ray yang masih tak sadarkan diri di markasnya. Esok paginya, Ray bangun lalu mencari Bang Ape. Namun sayang, Ray malah menemukan Bang Ape dari tayangan televisi. Bang Ape ditangkap polisi malam itu.

Dari peristiwa-peristiwa yang dialami Ray, penonton diajak untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besar Ray selama hidupnya. Malaikat yang mengajak Ray untuk menapaki jejak masa lalu menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu telah terjawab, namun Ray tidak pernah menyadarinya.

Pertama, pertanyaan “Mengapa Tuhan menempatkan Ray di panti asuhan?” Jika dicermati, kematian Diar akibat ulah Ray itulah jawabannya. Ray merasa kematian Diar adalah akibat ulahnya hingga membuat Diar dikeroyok banyak orang lalu menyebabkan Diar meninggal. Jika Ray mampu memahami, Diar adalah alasan Tuhan menitipkannya di panti asuhan. Mengapa? Diar menganggap Ray adalah sahabat sekaligus pahlawan baginya. Ray adalah sahabatnya sejak kecil, teman berbagi selama di panti asuhan sekaligus pahlawan karena selalu melindungi Diar dan anak-anak lainnya dari kekejaman Bapak pemilik panti asuhan bahkan Ray kerap berkorban untuk kesalahan yang tidak dilakukannya demi melindungi saudara-saudaranya dari hukuman bapak. Pernah suatu kali bapak marah besar karena tasbihnya putus. Bapak mencari-cari anak yang dengan ceroboh merusak benda kesayangannya. Hingga Ray tiba-tiba mengaku bahwa dialah orang yang telah merusak tasbih tersebut padahal benda tersebut dirusak oleh Diar akibat kecerobohan Diar. Rayhan dihukum berat secara fisik oleh bapak atas kesalahan yang sebenarnya tidak ia akukan.

Pertanyaan kedua perihal “Apakah Tuhan adil?” cukup rumit  terjawab. Sebab dari peristiwa yang saling berkait itulah penonton akan menyimpulkan sendiri keadilan Tuhan pada diri masing-masing manusia. Jikalau saya menjadi Ray, barangkali akan menganggap Tuhan adil pada dirinya sebab ia terus saja diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjalani kehidupan berkat kebaikan Tuhan padanya. Namun, barangkali Ray merasa Tuhan tidak adil pada teman-temannya yang bernasib tidak seberuntung darinya. Sebut saja kawan baik Ray yakni Diar yang meninggal dunia akibat dikeroyok warga akibat ulah Ray, Natan yang kehilangan pita suara emasnya dan gagal mengikuti audisi penyanyi karena dikeroyok oleh preman-preman yang dendam dengan Ray, dan Ilham yang menjadi incaran preman-preman karena Ray membelanya, serta Bang Ape yang menyerah kepada polisi tanpa mengikutsertakan Ray (menyembunyikan Ray agar selamat) padahal mereka berdua telah berjanji apabila salah seorang dari mereka tertangkap polisi, maka mereka akan bersama-sama masuk penjara. Hingga delapan tahun kemudian Bang Ape dihukum tembak mati, Bang Ape tetap menjaga rahasia keterlibatan Ray dari polisi demi membiarkan Ray selamat.

Melalui film ini, saya menyimpulkan bahwa setiap peristiwa hidup dalam hidup manusia saling berkaitan dengan peristiwa dan manusia lainnya. Segala sesuatunya telah Tuhan gariskan. Tinggal kita memilih mampu atau memilih menyerah menjalaninya. Tuhan menunjukkan keadilannya melalui cara-Nya bahkan sulit untuk kita pahami dengan nalar.

Lalu saya teringat kutipan Pramoedya Ananta Toer, “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang penderitaannya saja, dia sakit." Bahwa hidup tidak melulu tentang kesulitan atau melulu tentang kebahagiaan. Semuanya sudah dituliskan oleh-Nya sesuai porsinya.

Film ini merupakan pilihan yang tepat sebagai refleksi di penghujung tahun 2019 khususnya bagi saya pribadi. Tentu sedih ketika film yang dibuat dengan serius dan penuh makna seperti ini jumlah penontonnya lebih sedikit dibandingkan film horor yang tengah laris manis dibuat para sineas film di sana. Beberapa kritikan terhadap film ini perihal alur ceritanya yang cenderung membuat jenuh bahkan ngantuk. Mungkin karena setiap peristiwa diceritakan secara rinci dengan sedikit lambat menyebabkan penonton jenuh. Akan tetapi semua kejenuhan itu tidak akan terjadi kalau penonton dengan jeli memperhatikan akting yang luar biasa Bio One sebagai Ray muda. Bener banget sik, kepiawaiannya berakting menjadi penyelamat film ini. Hanya saja, Ray muda yang diperankan Bio One ini lebih menonjolkan sikap dan tindakan daripada dialog. Menurut saya, dialog Ray kalah banyak dibandingkan adegan fighting yang dilakukannya. Terlepas dari itu semua, film ini rekomended bagi kalian yang juga memiliki pertanyaan-pertanyaan hidup yang mungkin hingga detik ini belum terjawab.

Membaca Teka-teki Wiji Thukul di Kota Khatulistiwa

“Bapakku seperti puisi, singkat dan misterius.”- Fajar Merah, putra Widji Thukul.

Seperti yang diungkapkan oleh Fajar Merah, Wiji Thukul memang sosok penuh teka-teki. Hal ini yang menginspirasi Anggi Noen, sang sutradara untuk mengupasnya dalam sebuah film. Berlatar tahun 1996, film ini mengangkat kisah hidup seorang Wiji Thukul, salah seorang dari 13 aktivis yang dinyatakan hilang pada zaman rezim Orde Baru. Seminggu sebelum tumbangnya Soeharto, Wiji Thukul dinyatakan hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang.

Istirahatlah Kata-kata dibuka dengan sepotong adegan seorang intelijen yang tengah mencoba mengorek informasi mengenai keberadaan Wiji Thukul dari seorang anak perempuan dan wanita yang merupakan anak dan istri Wiji Thukul. Sedangkan di belakang intelijen itu, intel lainnya digambarkan tengah menggeledah buku-buku milik Wiji Thukul yang tertata rapi di rak buku rumahnya.

Sang sutradara memang mengembangkan cerita pada situasi dan kondisi Wiji Thukul selama melarikan diri dan bersembunyi di Pontianak pascakerusuhan 27 Juli 1996. Film ini berfokus bagaimana Wiji Thukul beradaptasi dengan lingkungan baru karena berpindah-pindah tempat tinggal dan bagaimana Wiji Thukul memupuk keberanian untuk bersosialisasi dengan masyarakat dengan menggunakan identitas baru.

Film yang rilis pertama kali pada Agustus 2016 di Locarno International Film Festival ke-69 ini tidak condong mengupas pergerakan Wiji Thukul dalam usahanya melawan rezim Orde Baru, melainkan mengupas sisi manusiawi Wiji Thukul sebagai sosok yang tengah menjadi buronan dan harus meninggalkan istri dan kedua anaknya di Solo. Keresahan yang dirasakan Wiji Thukul diutarakan melalui larik-larik puisi yang ditulisnya selama di Pontianak.

Gunawan Maryanto, aktor yang memerankan tokoh Wiji Thukul apik melakoni peran seorang Wiji Thukul. Tidak meragukan kepiawaian akting Gunawan Maryanto yang merupakan seniman teater asal Yogyakarta berhasil menyuguhkan rasa cemas, takut, rindu, marah yang membelenggu Wiji Thukul berada di antara penonton. Hanya secarik kertas putih dan pensil serta penghapus karet gelang yang senantiasa menjadi teman setia menuangkan kegelisahannya melalui bait-bait puisi yang ditulisnya.

Saat Wiji Thukul melarikan diri ke Pontianak dan bersembunyi di rumah kawannya, rasa kecemasan dan ketakutan coba divisualisasikan melalui punggung dan tatapan nanar Wiji Thukul ketika makan bersama kedua kawannya di ruang tengah yang mana di ruangan tersebut tergantung sebuah lukisan The Last Supper. Pilihan sutradara menggunakan lukisan tersebut meluaskan peluang interpretasi mengenai misteri 13 aktivis yang masih hilang. Sebuah usaha “menolak lupa” yang terbilang cukup menarik.

Dijelaskan bahwa Wiji Thukul menyembunyikan diri di Pontianak selama delapan bulan lamanya demi meghindari aparat. Keberanian untuk menampakkan diri ke dunia luar dipaparkan secara bertahap dari adegan berpindahnya Wiji Thukul dari rumah ke rumah kawannya dan beraktivitas di luar rumah. Awalnya ia hanya berani keluar rumah saat malam hari saja tatkala diajak seorang kawan untuk membeli tuak, itu pun masih dihinggapi rasa takut terhadap kacang ijo (sebutan bagi tentara). Kemudian Wiji mulai memberanikan diri berbincang dengan kawan-kawannya di teras rumah.

Wiji mulai berani berkomunikasi dengan dunia luar, di antaranya ngopi di kedai kopi tepi Sungai Kapuas dan menghampiri seorang ibu yang anak bayinya tengah menangis untuk sekadar bertanya. “Bapaknya kemana, bu?” tanya Wiji Thukul. “Tidak tahu kemana, belum pulang-pulang,” jawab ibu tersebut. Hal itu cukup menggugah Wiji Thukul karena yang dialami oleh wanita yang ditanyainya tersebut berangkali dirasakan oleh istrinya Sipon yang ditinggalnya di Solo bersama kedua anaknya, Fitri dan Fajar Merah. Sisi manusiawi itulah yang coba diangkat oleh sang sutradara, Anggi Noen bahwa Wiji Thukul juga merupakan manusia yang tak luput dari rasa rindu pada keluarganya.

Dalam film tersebut, panasnya situasi politik saat itu digambarkan melalui siaran radio dan perbicangan orang-orang. Tidak ada demonstrasi, tidak ada pekikan suara para aktivis menuntut reformasi. Posisi Wiji Thukul sebagai pemimpin demonstran memang tidak dimunculkan. Hanya ada kesunyian dan sepi yang terasa selama pemutaran film. Sebab keseharian yang cukup menjenuhkan itulah yang menjadi fokus utama film tersebut.

Puisi-puisi Wiji Thukul yang mengisi sepanjang durasi film menghubungkan adegan demi adegan agar lebih didalami oleh penonton. Seperti judulnya, Istirahatlah Kata-kata memang minim kata-kata, namun puisi-puisi Wiji Thukul menggiring penonton untuk mendalami cerita. Karena tujuannya memang agar penonton dapat menginterpretasi setiap puisi yang dilafalkan lewat kata-kata dan memahami berbagai gejala yang dialami sang penyair. Ruang sepi itulah yang coba dihadirkan kepada penonton.

Rasa haru kental terasa tatkala menyaksikan adegan terakhir saat Wiji Thukul mengambil segelas air putih untuk sang istri yang tengah menangis. Wiji Thukul kemudian menawarkan lagi untuk mengambil segelas air putih di dapur lalu tidak pernah kembali lagi. Keberadaan Wiji Thukul bak teka-teki yang sulit dipecahkan hingga kini.

Film yang saya kira akan berjalan serius itu rupanya banyak disisipkan humor yang memunculkan gelak tawa penonton. Di balik humor yang dimunculkan sebenarnya memiliki makna yang coba diungkapkan sang sutradara. Misalnya saja, pada adegan saat Wiji Thukul sedang duduk di kamar sembari membaca buku kemudian datang kerabatnya yang merupakan seorang mahasiswa. Perbincangan tersebut sedikit membahas soal membaca dan keberanian bersuara. Lantas sang mahasiswa tersebut berceletuk, “maka dari itu saya memilih untuk tidak membaca agar terlepas dari beban untuk bersuara. Buat apa banyak-banyak membaca buku.” Jawaban mahasiswa itu sontak memunculkan gelak tawa juga sindiran yang cukup keras.

Dalam situasi yang genting pun Wiji Thukul masih menyempatkan diri berliterasi. Dialog antara Wiji Thukul dan mahasiswa tersebut cukup menampar saya sebagai mahasiswa, namun masih malas membaca dan takut bersuara ketika ada sesuatu yang salah. Widji Thukul adalah sastrawan yang berani, sosok yang tidak bisa diam melihat ketidakadilan dan menuntut adanya suatu gerakan untuk memusnahkan ketidakadilan tersebut.

Bagaimanapun, Istirahatlah Kata-kata patut memperoleh apresiasi. Sebuah cara lain menikmati puisi selain dibaca sebagai teks telanjang. Film ini sebagai bentuk penghormatan yang puitis kepada Wiji Thukul, seorang penyair yang melawan ketidakadilan melalui kata-kata juga seorang manusia yang bertahan di tengah tekanan yang teramat berat. Serta sebagai sebuah upaya dan pengingat akan nasib aktivis yang masih hilang dengan harapan menuntut agar negara serius mengurusi pekerjaan rumah yang belum menemukan penyelesaian. Setidaknya Istirahatlah Kata-kata mampu memperkenalkan Wiji Thukul kepada kita semua yang kian jauh dari buku dan sejarah.

[Resensi Film] Ayah Menyayangi Tanpa Akhir

Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. [Doc. gambar: http://static.republika.co.id/]

Lagi, film Indonesia yang diadaptasi dari novel karya penulis Indonesia. Film yang diadaptasi dari karya penulis Kirana Kejora dengan judul yang sama dengan novelnya; Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Kisah pertalian cinta antara Jepang dan Pribumi menjadi pemula mengawali film bernuansa sendu ini.

Awal kisah cinta antara Arjuna Dewantara (Fedi Nuril) dan wanita Jepang, Keisha Mizuki diceritakan dalam narasi yang dituturkan oleh Mada, anak semata wayang mereka. Serupa halnya dengan Jepang dan Indonesia, Juna dan Keisha berupaya mencari jalan untuk merdeka. Kisah kasih yang terjalin sejak masa kuliah harus terbentur latar belakang budaya masing-masing negara. Keluarga Juna yang merupakan keluarga Jawa kolot tidak bisa menerima Keisha, gadis asli keturunan Jepang yang tengah mencari ilmu di Indonesia.

Sikap ibunda Juna yang keras yang tidak merestui cinta Juna dan Keisha, tidak menghalangi niat Juna untuk menjemput Keisha di pelaminan untuk menjalani hidup berdua. Respon kedua keluarga yang sama-sama tidak merestui hubungan Juna dan Keisha dijelaskan gamblang dalam novelnya. Di dalam film, hanya dijelaskan keluarga Juna yang menolak keras  kehadiran Keisha menjadi bagian dari keluarga Juna. Respon keluarga Keisha tidak diketahui oleh para penonton film ini.

Kehilangan Keisha di saat kehadiran Mada ke dunia menjadi pukulan berat bagi Juna. Meskipun tidak diviualisasikan secara gamblang dalam film. Agaknya Juna mudah bangkit dan bersiap menjadi orangtua tunggal bagi si kecil Mada. Suatu rumus yang menegaskan bahwa laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan, sementara perempuan tetap bertahan tanpa laki-laki di sampingnya, memang benar adanya. Tidak berapa lama sejak kepergian Keisha, Juna segera mencari pembantu untuk membantu pekerjaan rumah sekaligus merawat Mada kecil. Mbok Jum sapaannya, ia adalah pembantu yang dahulu bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Juna.

Bagi kaum Hawa yang mendambakan sosok sholeh, tampan, dan beriman seperti aktor Indonesia Fedi Nuril. Kadar kecintaan pada Fedi Nuril dipastikan akan meningkat drastis. Di film-film sebelumnya, Fedi Nuril selalu berperan menjadi laki-laki bijaksana, bertanggung jawab, dan penyayang keluarga. Tidak mengherankan ia digilai oleh banyak wanita yang mendambakan sosok “suamiable” sepertinya. Serupa di film ini, Fedi Nuril ditantang menjadi seorang ayah yang mendidik dan merawat putra semata wayang tanpa didampingi oleh  istri di sampingnya. Penonton yang barangkali didominasi oleh kaum hawa akan terpesona ketika menyaksikan adegan Juna (Fedi Nuril) yang mengajak bermain bayi, memeluk dan menciumi bayi itu lekat-lakat tanda kasih sayang seorang ayah.

Selain terpukau dengan adegan yang disebutkan tadi, penonton akan terhanyut oleh perasaan iba pada nasib Juna dalam film tersebut. Kehilangan menjadikan seseorang harus siap menghadapi segalanya sendiri.

Hubungan Ayah dan Anak
Kasih sayang seorang ayah tak ubahnya kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Ayah menyalurkan kasih sayang melalui ketegasannya, sedangkan ibu melalui kelembutannya. Sosok Juna terlihat sebagai ayah yang tegas bagi Mada. Seperti ayah-ayah pada umumnya, sosok ayah sebenarnya penuh kasih sayang dan khawatir dibalik diamnya. Jika seorang ibu segera menelepon anaknya yang tak kunjung pulang, berbeda bagi ayah. Tahukah anda bahwa yang menugaskan ibu menelpon adalah ayah. Seperti itulah gambaran perhatian ayah dan ibu pada anaknya.

Adegan-adegan mengharukan hadir sepanjang film tersebut. Menjadi seorang ayah yang harus merawat anak yang sakit keras tanpa kehadiran sosok ibu bukan hal yang pernah dipikirkan Juna. Saat Mada merasakan puncak kesakitan dimana sel-sel kanker menyerang otaknya, Juna hanya bisa mendekap untuk menenangkan serta turut merasakan kesakitan yang dialami Mada tanpa berkata-kata. Juna bisa menjadi seorang ayah, ibu, teman, dan guru bagi Mada. Seringkali mereka terlibat diskusi bersama membahas tentang sejarah, olahraga, dan cinta.

Sikap tegas Juna yang diaplikasikan dalam mendidik Mada tidak berhenti saat kondisi Mada sehat. Bahkan saat Mada positif divonis menderita kanker otak, ketegasan Juna tetap berlanjut dalam mendidik Mada demi kesehatan Mada pulih kembali. Di sana kita akan melihat bahwa ketegasan dalam mendidik tidak selamanya berkonotasi buruk. Juna membuktikan rasa kasih dalam ketegasan mampu mendidik anak tumbuh menjadi pribadi yang penyayang, berkemauan keras dan bertanggung jawab seperti Mada.

Satu-satunya konflik yang menarik dan sedikit memicu tawa adalah dalam film ini adalah ketidaksepahaman antara Juna yang berprofesi sebagai apoteker dan Dean (red: Din), sahabat Juna yang merupakan seorang dokter dalam mencari solusi untuk  menyembuhkan kanker yang diderita Mada. Keduanya memiliki argumen masing-masing yang bertujuan sama yakni menyembuhkan  seorang pasien penderita kanker dimana semestinya keduanya bisa bekerja sama dalam bidang yang saling berkaitan itu. Dean menyadari sepenuhnya posisi Juna tidak hanya sebagai seorang apoteker saja, sekaligus seorang ayah bagi anaknya yang divonis kanker otak.  Seorang ayah yang profesinya di luar bidang kesehatan akan melakukan apa saja demi kesembuhan anaknya. Apalagi Juna yang  ditakdirkan sebagai apoteker yang mengetahui seluk beluk dunia kesehatan, maka akan berusaha meracik obat untuk mematikan sel-sel kanker yang menyerang otak anak semata wayangnya itu.

Ada beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan dalam film ini. Di akhir film terdapat adegan Juna kembali bertemu kembali dengan keluarganya. Saat pertemuan antara Juna dan ibu serta kakak-kakak kandung Juna tidak ada dialog yang mewarnai adegan mengharukan tersebut. Lantas, apa yang membuat ibunda Juna mau menerima kembali? Apakah kematian Mada adalah alasan satu-satunya yang meluruhkan kerasnya ego ibunda Juna?

Ayah Menyayangi Tanpa Akhir bercerita tentang perjuangan, kesabaran, pengorbanan dan ikhlas menerima serta rekonsiliasi hubungan orangtua dan anak. Meskipun alur cerita mudah ditebak, namun dipastikan tidak akan segera menghentikan untuk mengakhiri menonton film ini. Kisah kompleks yang dibungkus secara sederhana ini akan terus mengajak penonton untuk hanyut dalam adegan tiap adegan. Cerita yang lebih menonjolkan Juna dan Mada ini memang ingin menyampaikan pesan bahwa cinta ayah pada anak tiada akhir. Tokoh Juna hadir menegaskan bahwa laki-laki bisa mendidik anak dengan caranya sendiri.  Sepeninggal Mada, Juna yang kini tiada anak dan istri di sampingnya memilih menjadi laskar yang membantu orang-orang yang membutuhkan di pelosok Indonesia dalam bidang kesehatan. Dari Mada, ia belajar menjadi ayah yang kuat. Dari Mada, ia memilih menjadi ayah bagi anak-anak di seluruh dunia. 

Buscar

 

Labels

  • Resensi

About

Ma Petit Histoire Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger