Pendapatku Pendapatmu

Kalian menyukai orang yang suka atau sering mengusulkan sesuatu gak? Tentunya mengusulkan sesuatu yang membangun. Apakah kamu termasuk salah satu orang yang sering mengusulkan ide tau pendapatmu?
Orang yang suka mengusulkan pendapat yang membangun tentu baik. Berarti orang tersebut banyak memiliki tujuan baik yang ingin dicapai bersama. Aku adalah salah satu orang yang sering mengusulkan pendapat, bahkan lebih sering pendapatku ditolak atau belum diterima, tapi aku termasuk orang yang belum bisa menerima pendapat orang lain. Pantesan yoo pendapatku sering ditolak. Xoxo.
Ketika aku berpendapat dan pendapatku ditolak, jika menolaknya dengan baik dan sopan, aku tidak mempersoalkannya, tetapi jika pendapatku ditolak dengan cara kasar atau dalam bahasa Jawanya “nesu,” aku langsung diam dan males ngomong lagi, tapi mimik mukaku tidak merasa kecewa. Aku berpendapat dengan baik dan sopan, tidak sepantasnya menolak dengan cara yang tidak sepatutnya. Mungkin mereka lupa pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan guru-guru mereka ketika SMP dulu tentang bagaimana menyanggah pendapat orang lain dengan baik dan sopan.
Saran dari aku, kalo kamu ingin menyanggah pendapat gunakanlah tutur kata yang baik dan sopan, tidak perlu bawa-bawa emosi. Percuma, kalo bawa-bawa emosi ujung-ujung bikin malu sendiri. Keliatan kepribadian kamu yang sebenarnya dari cara kamu menyanggah pendapat. Sedangkan jika pendapatmu ditolak, jangan terbawa emosi. Kamu bisa menjelaskan dengan tutur kata yang baik dan tidak perlu terpancing emosi. Kalo kamu merasa kamu tidak mampu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya karena posisi kamu terdesak, maka yang lebih baik kamu lakukan adalah diam. Kamu tau pendapatmu baik. Jangan bersedih hati. Tuhan mengetahui niatmu yang baik. 
Aku tuh punya temen, gak tau kenapa pendapatku sama pendapat dia selalu beda. Kalo aku suka sama suatu hal, dia gak suka sama hal itu. Intinya selalu bertentangan dengan pendapatku. Tiap aku berpendapat pasti dia orang nomor wahid yang kontra. Dari hal yang sepele sampai hal yang menurut aku penting. Contohnya, aku kan suka sama couple Rabel (Raffi & Bella), nah dia sukanya sama couple Rans (Raffi & Nagita). Yang paling rame kalo topiknya tentang politik. Aku kan penggemar Koalisi Merah Putih tentunya aku cenderung memihak ke Pak Prabowo, sedangkan dia golongan Panasbung (Pasukan Nasi Bungkus) hahaha tau kan pendukungnya siapa? Bhihihik..
Tadi kan aku lagi main twitter, terus aku baca tweet (pake suara) yang bunyinya "KIH bikin DPR tandingan, hanya akan merugikan rakyat." Nah, dia respon, "Ya berarti adil dong, toh DPR sekarang isinya orang-orang KMP." Aku menjawab lagi, "Walaupun sebagian besar DPR periode ini isinya orang-orang KMP, tapi itu kan hasil mufakat sidang paripurna bukan karena keinginan golongan." Dia menimpali, "Bukan sebagian besar lagi, TAPI SEMUANYA!" Aku ikut menimpali, "Tapi setidaknya tidak membuat DPR tandingan, itu salah satu tanda tidak kedewasaan dalam berpolitik. DPR tadingan tidak memiliki payung hukum." Kemudian dia diem.
Beberapa menit kemudian, aku baca tweet yang isinya kalo seminar dengan tiket harga 100 ribu gak jadi foto bareng bang Herjunot Ali, tetapi foto bareng bintang standup comedy. Padahal pengumuman sebelumnya kalau tiket 100 ribu bisa foto bareng bang Junot. Terus aku ngasih tau ini ke temenku yang bernama Jaenah. Tiba-tiba temenku si kontra nomor  wahid ini nyeletuk, "Terserah Junot mau foto bareng siapa aja keleus.." Aku langsung diem sambil mikir, "APA HUBUNGANNYA? HUAKAKAKAK." Nih, bagi siapa saja yang doyan ngeritik. Berpikir ulang dahulu sebelum bicara, kadang omongan kamu sendiri yang akan menjatuhkkanmu. Demikian.

Orang Cerdas dan Tidak Cerdas

                ORANG cerdas memahami konsekuensi setiap jawaban dan menemukan bahwa di balik sebuah jawaban tersembunyi beberapa pertanyaan baru. Pertanyaan baru tersebut memiliki pasangan sejumlah jawaban yang kembali akan membawa pertanyaan baru dalam deretan eksponen sial. Sehingga mereka yang benar-benar cerdas kebanyakan rendah hati, sebab mereka gamang pada akbiat dari sebuah jawaban. Konsekuensi-konsekuensi itu mereka temui dalam jalur-jalur seperti labirin, jalur yang jauh menjalar-jalar, jalur yang tak dikenal di lokus-lokus antah berantah, tiada berujung. Mereka mengarungi jalur pemikiran ini, tersesat jauh di dalamnya, sendirian.
                Godaan-godaan besar bersemayam di dalam kepala orang-orang cerdas. Di dalamnya gaduh karena penuh dengan skeptisisme. Selesai menyerahkan tugas kepada dosen, mereka selalu merasa tidak puas, selalu merasa bisa berbuat lebih baik dari apa yang telah mereka presentasikan. Bahkan ketika mendapat nilai A plus tertinggi, mereka masih saja mengutuki dirinya sepanjang malam.
                Orang cerdas berdiri di dalam gelap, sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Semakin cerdas, semakin terkucil, semakin aneh mereka. Kita menyebut mereka: orang-orang yang sulit. Orang-orang sulit ini tak berteman, dan mereka berteriak putus asa meohon pengertian. Ditambah sedikit saja dengan sikap introvert, maka orang-orang cerdas semacam ini tak jarang berakhir di sebuah kamar dengan perabot berwarna teduh dan music klasik yang terdengar lamat-lamat, itulah ruang terapi kejiwaan. Sebagian dari mereka amat menderita.
                Sebaliknya, orang-orang yang tidak cerdas hidunya lebih bahagia. Jiwanya sehat walafiat. Isi kepalanya damai, tenteram, sekalius sepi, karena tak ada apa-apa di situ, kosong. Jika ada uara memasuki telinga mereka, maka suara itu akan terpantul-pantul sendirian di daam sebuah ruangan yang sempit, berdengung-dengung sebentar, lalu segera keluar kembali melalui mulut mereka.
                Jika menyerahkan tugas, mereka puas sekali karena telah berhasil memenuhi batas akhir , dan ketika mendapat nilai C, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena telah lulus.
                Mereka hidup di dalam terang. Sebuah senter menyiramkan sinar tepat di atas kpala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai pada batas lingkaran cahaya senter itu. Di luar itu adalah gelap. Mereka selalu berbicara keras-keras karena takut akan kegelapan mengepung mereka. Bagi sebagian orang, ketidaktahuan adalah berkah yang tak terkira.



Sumber : Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang.

Jang Terjaim 2014

"....Jang yang ganteng bikin semua seneng"
Itu sepenggal lirik Yel-yel ospekku. Jadi, aku punya Jang yang jaimnya Masya Allah, tapi sekali dia senyum walaupun itu cuma senyum simpul, manisnyaa Subhanallah!! Jang itu nama panggilan kakak laki-laki di fakultasku.
Pertama kali aku ketemu dia saat aku mau upacara 17 Agustusan, kebetulan dia lagi bertugas dokumentasikan foto-foto Mahasiswa Baru. Tapi, sebelum ini aku sering ketemu dia deh dan baru ngeh sekarang. Orangnya kurus, mukanya kalem, rambutnya setttt.... intinya super jaim!
Baru nyadar dia perhatian waktu aku lagi baris terus doi nanya, "Kamu gak apa-apa? Kalo sakit bilang ya."
Nyesss! Aku lantas kaget, orang yang selama ini aku pikir jaim, jutek, cuek ternyata perhatian dan peduli.
Hari-hari ospek menyenangkan berkat doi. Huek. Blah. Maaf lebay. Xoxo.
Waktu aku cari tau nama doi, susah banget. Sampe kepikiran mau nanya nama dia ke kelompok bimbingannya, tapi gak jadi wlee. Aku akhirnya tau nama doi berkat kerja keras sendiri. Gak pake cara nanya-nanya kepo ke orang lain. Xixixi. *devil smile*
Sore kemarin iseng cari tau medsos yang dia punya, WALAAA akhirnya namu facebook dan twitternya. Aku gak add facebooknya, follow twitternya doi sudah cukup. Duh, beberapa maba pada mention minta follback. Abis aku ngefollow doi, twitterku langsung aku protect biar kalo doi follback bisa aku pikir-pikir dulu. Hahahak pede banget kayak mau difollback beneran.
Pagi tadi waktu aku upacara Pramuka masih ada beberapa panitia ospek yang lagi siap-siap pulang ke rumah. Soalnya mereka semua pada nginep di kampus. Aku celingak-celinguk sapa tau ada doi lewat kan lumayan bisa ngilangin ngantuk. Eh ternyata beneran dia lewat dan sempetin liat aku dan maba yang lain duduk-duduk di lapangan ikut kegiatan pramuka. Doi pake baju ungu sambil nyangking handuk di pundaknya, seperti biasa dengan wajah jaimnya.
Waktu aku mau pulang dari auditorium, aku lewat gedung B1 soalnya disana sepi biar gak umpel-umpelan gitu. Ternyata disana ada sosok Jang Terjaim lagi nongkrong sambil ngerokok. Jang, kenapa kamu harus merokok? Kasihan organ tubuhmu. Aku baru inget, Yayik kemarin bilang ke aku, "Kayaknya doi ngerokok deh," tapi aku gak percaya.
Sorenya, aku masih ada acara pentas seni di kampus, eee doi dateng padahal doi gak ikut organisasi Pramuka. Woh! Gak jadi bete deh akoo.
Jaim-jaim gitu doi kayaknya pemalu. Masa waktu Welcoming Party kemarin, yang lain pada joged, doi gak ikutan joged. Masih tetap dengan kejaimannya.
Ba'da Maghrib tadi aku buka twitter, betapa seneng dan gak percaya doi ngefollback twitterku. Senengnyaaahhhhhh!!! Untung udah aku protect. Jadi aku bisa ngetweet ngalay dulu. Kwkwkw.
Tuh kaannnn dibalik kejaimannya, sebenernya doi sangat baik dan peduli.
Seandainya keripik sepeka Jang itu ya. Tenang aja kok, aku cuma kagum saja sama Jang Jaim itu. Hatiku masih untuk kamu, duhai kakak kelas yang aku tunggu-tunggu 3 tahun terakhir ini.

Antara Hati dan Air mata

Suatu hari, seorang gadis perempuan menangis diam-diam. Ia teringat seseorang yang 3 tahun terakhir ini mengusik hati dan pikirannya. Tak sedetik pun ia tak memikirkan seorang laki-laki yang selalu ia sebut namanya ketika ia memohon pada Tuhannya. Gadis itu menangis hingga ia terlelap tidur. Kemudian ia bermimpi, dilihatnya hati dan air matanya berseteru di depan mata kepalanya.
Hati              : “Kamu kenapa? Menangis lagi? Percuma terus menangis. Orang yang kamu puja-puja itu tidak akan pernah tau kamu disini menangisinya.”
Air mata       : “Selain menangis aku bisa apa? Aku sangat merindukannya.”
Hati              : “Bukankah kamu pernah berjanji pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak akan pernah lelah                               mencintai dia bahkan jika Tuhan belum merestui kamu dan dia bertemu kembali, kamu akan                         tetap mencintainya.”
Air mata       : “Tapi, aku cemburu ketika ada orang lain yang bisa membahagiakan dia selain aku.”
Hati              : “Lho, itu kan sudah risiko yang harus kamu tanggung. Kamu bukan siapa-siapanya dia, ingat                           itu! Seharusnya kamu bersyukur. Dia terus menutup hati untuk orang lain entah sampai kapan                        dia terus menutup hati untuk sekarang ini. Bahkan, di sekililing dia banyak wanita-wanita                                cantik dan pintar, dia tetap menutup hatinya untuk mereka. Tuhan punya rencana dibalik itu                            semua.”
Air mata        : “Jika tiba-tiba dia tertarik dengan salah satu dari mereka, aku bisa apa. Aku tidak secanti dan                         sepintar wanita-wanita disekeliling dia. Aku hanya pungguk yang merindukan bulan.”
Hati               : “Kamu tidak percaya dengan kuasa TuhanMu? Kamu meragukannya, hah? Percuma kamu                            setiap waktu memohon pada-Nya, tapi di hati kecilmu, kamu malah meragukan kuasa-Nya.                          Tuhanmu menciptkan manusia berpasang-pasangan. Kamu butuh dia untuk mengisi                                        kekuranganmu, juga sebaliknya. Itulah gunanya pasangan. ”
Air mata        : “Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Terus diam sampai Tuhan mempertemukan aku                             dan dia?”
Hati               : “Teruslah memohon pada-Nya agar selalu menjaga dia sampai saatnya kalian bertemu                                    Sampai saat dimana kalian benar-benar saling membutuhkan untuk saling mengisi dan                                    berbagi. Perjalanan cinta sejati tidak akan pernah berjalan mulus.”

Reunion!

      

     Senengggg banget banget deh ketika kita bisa ada di tengah-tengah orang yang sayang sama kita, salah satunya adalah teman-teman kita. Apalagi temen-temen SMP, mereka adalah orang-orang yang melewati masa remaja bersama kita di sekolah. Dimana kita masih culun-culunnya, kucel, banyak deh.
3 Agustus 2014 resmi pertama kali kita reunian bareng seangkatan. Engggg.. sebenernya ini reunian kedua bagi aku, soalnya taun kemarin aku ngadain acara reuni kecil-kecilan hanyak untuk temen2 deketku dan gak formal bingit tapi reuniannya pergi bareng ke Waduk Cacaban. Aku udah pernah cerita kok di blog ini, kalian cari aja wokkeey?!
Kenapa reuni 3 Agustus 2014 ini bisa terjadi? Gimana awalnya?
  •             Waktu masih bulan Ramadhan, aku kan buka facebook tuh. Namanya juga anak gahol, ya gak? Xoxoxo. Tiba-tiba.. yaa gak tiba-tiba banget juga sik. Ada salah satu temen SMPku, namanya Markhamah update foto terbaru di pesbuk dengan title, “Reuni with temen-temen MTs.” Intinya statusnya begitu deh ya. Mereka kurang lebih 10 orang kumpul bareng di café. Ih jahat, reuni gak ngundang-ngundang. Cukup tau deh. Aku gak ngelike fotonya, sok bête gitu. Wakaka!


Eh, tapi kok di fotonya ada orang-orang yang wajahnya asing buat aku. Aku gak kenal beberapa dari mereka. Mukanya sangar-sangar. Pakaiannya item-item pula. Beberapa orang yang sangar tadi itu gak pernah sekelas sama aku. Maklum, aku masuk kelas unggulan terus sampe kelas 3 SMP. Jadi, sekelasnya sama orang-orang yang rapi. Haha. Maap bukannya sombong. Ini demi kebutuhan cerita. Tapi, gapapa deh gak ikut reuni. Aku takut ketemu orang-orang sangar. Walaupun aku gak bakalan dateng ke café itu, minimal aku diundang dong. Bete lagi deh ah.

Kok kamu bisa ikut reuni 3 Agustus?
  •            Ya, bisalah. Aku kan dapet undangannya. Jadi, waktu siang bolong, aku kan lagi mainan laptop. Tiba-tiba ada yang dateng ke rumahku, ternyata ada Markhamah, Erna & Wae. Seneng bisa ketemu mereka lagi. Wae udah tinggi loh sekarang. Hahaha. Mereka ngasih tau aku kalo bakal ada reuni tanggal 3 Agustus 2014. Terus, mereka minta aku nganterin mereka nyari rumahnya Nurrohmah & Ummu buat ngasih undangan. Karena aku adalah temen SDnya Nurrohmah & Ummu, jadi aku tau alamatnya. Abis nganter undangan ke rumah Nurrohmah & Ummu, malah keasikan diajak muter-muter nyebar undangan.


Kamu jadi tamu doang di reunian? Biasanya kan kamu orangnya paling aktif.
  • Seneng sih bisa diundang di acara reuni angkatan sendiri, tapi diem-diem sedikit kecewa karena gak dilibatin dalam acara ini. Mungkin mereka udah bisa mandiri. Positive thinking dong teteeupp. Awalnya sih jadi tamu biasa kayak temen-temen lainnya. Tapi, 3 hari sebelum eksekusi tiba-tiba ada dua orang cowok dateng ke rumah. Satunya aku kenal dan satunya enggak. Lho, itu kan Alpin sama &$#@+*> (MAAP, WAKTU ITU BENERAN AKU BELUM TAU NAMANYA SUERR GAK BOONG). Aku kira mereka dateng ke rumah mau silaturrahmi sama ayahku, kebetulan ayahku itu guru fisika mereka juga waktu SMP. Eh taunya mereka ada perlu sama aku. Ngggg… mereka akhirnya butuh bantuanku untuk acara reuni. Demi nama baik angkatan, nusa, bangsa dan negara, aku langsung setuju buat bantu mereka. Dan akhirnya aku kenalan sama ketua Panitianya yang tadi aku sebut &$#@+*> sekarang namanya adalah Budi. Kwkwkwkwkw.


Beberapa dialog kami saat itu :
Yunita : Eh, kok aku jadi terlibat gini sih? Aku kan bukan panitia. 
Budi    : Ya gapapa.
Yunita : Panitia acara reuni ini kan mereka yang kumpul di MMC café kan? Kemana mereka? Aku kan gak diajak. Alpin, kamu juga gak ikut kumpul di MMC café kan? Sakitnya tuh disini………..
Alpin   : Iya, aku juga gak diajak kumpul di MMC café. Sakitnya tuh disini……. *nunjuk pantat kemudian ngajak toss*
Yunita  : *toss*
Budi     : Gak kok, kemarin itu bukan reuni tapi cuma acara bukber biasa. *muka merah*
Yunita  : Ok, gapapa. Aku minta, nanti malem kita rapat lagi di rumahku. Ajak panitia yang lain. Kita matangkan konsep.
  
Kalian jadi rapat malemnya? Apa hasilnya?
  • Yup, jadi. Biasalah yang bikin aku bête, mereka gak on time! Tapi, untungnya Singgih dateng duluan. Hahaha, masa Singgih dateng tapi gak berani ketok rumahku. Katanya takut dan malu sama ayahku. Hampir setengah jam Singgih nongkrong di jalan kecil depan rumah om-ku. NYAHAHAHA. Padahal, badan dia gede loh kek security. Aku ajak Singgih duduk di teras depan sambil ngobrol. Lama banget nunggu yang lain dateng sampe aku bingung mau ngobrolin topik apalagi. Fffiuuuh.. akhirnya Alpin & Budi dateng. Alpin dateng langsung ngakak gara-gara aku SMS dia, “Pin, cepetan nih Singgih udah garing.” Gak lama juga, Hanif dateng. Markhamah kecapekan nyebar undangan, jadi gak bisa dateng. Sedangkan panitia yang lain? Hmmm.. gak usah ditanya! Setelah kita rapat tentang apa aja yang perlu kita siapin, aku baru tau persiapannya belum maksimal. Tapi, waktu tinggal 2 hari. Kita kejar target itu. Gilak, abis rapat malemnya badanku panas. Menggigil meennn! Dingin banget! Pikiranku muter-muter di reunian. Khawatir gimana jadinya sementara persiapan belum 100%. Besok paginya aku minum obat, soalnya pagi itu aku harus segera kumpul untuk gelada resik. Waktu ketemu temen-temen Panitia di geladi resik, gak tau kenapa langsung sembuh gitu. Ajaib!


Tapi, ternyata berhasil kan? Kok bisa gitu?
  • Waktu geladi resik panitia kumpul di venue. Sumpah! Salut sama Budi, Alpin & Singgih. Ternyata kursi udah tertata rapi berkat mereka sejak kemarin sore. Waktu gelada resik, yang kumpul itu aku, Markhamah, Budi, Alpin, Risky, Hanif, & Singgih. Aku & Markhamah ngerasa wonder woman banget! Hahaha. Masih ada dua panitia cewek lagi, tapi mereka ada yang gak dateng dan datengnya pas semuanya udah siap. Bersyukur banget. Berkat geladi resik kemarin aku bisa lebih kenal sama seseorang. Xoxoxoxo..


Gimana eksekusinya? Sukses kah?
  • Kita gak nyangka Pak Kepsek bakal dateng, padahal guru-guru gak sempet dateng karena ada acar halal bihalal. Aku dapet amanah jadi yang menyampaikan sambutan sebagai wakil alumnus 2010/2011.


Apakah ada sesuatu yang bikin kamu kecewa?
  • Hmmm.. aku tulis satu-persatu deh biar jelas apa aja yang bikin aku kecewa. Terlebih lagi membuat malu Panitia.


1)    Beberapa teman-teman kita yang cewek tidak berpakaian sepatutnya. Udah tau kan kalo SMP kita tuh basicnya sekolah Islam, tapi mereka seenaknya dateng tanpa mengenakan jilbab. Oke, gini deh. Terserah deh gak pake jilbab, tapi minimal baju dan celananya tolong dikoreksi lagi. Pantas tidak bertemu dengan teman-teman SMP yang dulu kita sama-sama terbisa mengenakan jilbab, tapi setelah lulus mereka seenaknya tidak mengenakan jilbab dan berpakaian seperti tante-tante disana. Minimal untuk acara setaun sekali ini aja deh. Gak bisa sopan? Kami sebagai Panitia malu di depan Bapak Kepsek. Aku takut angkatan kami dicap jelek oleh beliau.
2)   Sebagian besar dari mereka sulit sekali diatur. Seenaknya sendiri. Teman-teman kami yang tidak memakai jilbab itu seenaknya mengatur kursi yang sudah kami tata rapi.
3)   Menurutku, Ketua Panitianya gak tegas dan terlalu jaga image. Apalagi waktu dia menyampaikan sambutan. Parahhh!!! Waktu rapat bilangnya santai. Sumpah, aku malu di depan Pak Kepsek. Huhuhu.
4)   Ada salah satu dari teman kami yang tidak memakai jilbab itu belum membayar uang iuran tapi Ketua Panitia tidak berani menegur. Padahal banyak dari teman-teman kami yang tidak bisa ikut karena kendala uang.
5)   Salah satu panitia cewek seenaknya sendiri. Saat acara akan dimulai, dia seenaknya sendiri mengubah-ubah susunan acara. Bahkan Singgih & Markhamah pun kurang suka dengan doi. Rapat tuh kemarin-kemarin bukan saat eksekusi!
6)   Udah deh segitu aja. Lainnya aku aja yang tau.

Ada kah yang bikin kamu gak nyangka bakal terjadi?
  • Ada dong. Selain aku bisa ngobrol intens sama seseorang. Wakaka! Aku juga gak nyangka sama cowok yang dulu sering ngeledek aku sekarang udah taubatannasuha. Pertama sih aku takut ketemu dia, takut diledek lagi. Dia juga keliatan ngehindar dari aku, tapi aku beranikan diri ngajak dia salaman. Trus kita salaman tanda pertemanan. Sekarang, gak berani lagi tuh ngeledek aku. Ngerasa kali dosa dia banyak banget ke aku. Tapi aku yang ngajakin salaman. Baru tau kalo aku ini orang baik kan? Hahaha.


Pasti ada dong hal yang bikin kamu seneng?
  • Ketemu temen lama disaat aku udah resmi jadi Mahasiswa. Btw, tahun lalu aku sering diminta temen-temen buat ngadain reuni tapi aku belum bisa, soalnya aku mau fokus dulu sama pendidikanku. Kalo belum resmi lolos PTN, aku belum plong. Dan reuni ini, do’aku selama ini tercapai. Aku bisa reuni disaat aku udah resmi jadi mahasiswa. Jadinya, aku lebih plong dan gak ada beban.


Siapa orang yang paling berkesan di reuni tahun 2014?
  • Banyak! Thank u so much Markhamah, Singgih, Lili, Alpin, Dewi, Hanif, Amin, Budi & Erna.



Terima kasih yaaa temen-temen semua.. Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Mudah-mudahan masih ada reuni-reuni tahun berikutnya lagi. Tapi, please jangan bikin aku bête. Acara ini ada untuk kalian. Bye! Xoxo.






Martabak apa aku ini?

Barusan aku iseng-iseng lagi ikut tes kepribadian versi martabak. Aku nemu linknya dari ask.fm nya Irshadi Bagas. Itu loooo yang jadi Farel kecil di sinetron Heart Series SCTV. HAHAHA!

Ini soal menghargai

     Tadi aku abis silaturrahmi ke rumah kakaknya mbah uti, terus disana aku ketemu cowok anaknya tuan rumah yang aku kunjungi. Namanya mas Tiar. Sekarang dia udah jadi dokter. Ya walaupun kuliahnya di salah satu PTS mahal di Semarang. Gak kayak aku, aku harus lolos di PTN biar biaya kuliahnya gak terlalu memberatkan orang tua.

      Si tuan rumah nanyain aku, aku lolos di prodi apa di PTN? Lalu aku jawab, Bahasa & Sastra Indonesia. Yang bikin sakit itu, om aku nyeletuk, "Lolos di prioritas ke tiga kan?" aku jawab, "Bukan, aku lolos di prioritas kedua." Terus si tuan rumah nanya, "Emang waktu daftar apa aja urutannya apa aja?" Aku jawab, "Pertama, ekonomi/akuntansi. Kedua, Bahasa & Sastra Indonesia. Nah, ketiga Ekonomi Pembangunan." Mas Tiar bilang, "Padahal Ekonomi Pembangunan lebih bagus lho." Om aku nyeletuk lagi, "Mungkin Sastra Indonesia sedikit peminatnya, makanya kamu lolos." 
Jleb! Sedih gak sih dibilang kayak gitu di depan orang-orang. Sakitnya tuh disini...........
Mas Tiar langsung bilang, "Eh, tapi kalo Presidennya Joko-Wi lagi butuhin Pendidik Bahasa Indonesia. Soalnya, anak SD sekarang harus bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar." Dia langsung mencairkan suasana gitu. 
     Bisa gak sih semua orang menghargai usaha orang lain. Minimal gak usah ngomong sesuatu yang gak perlu. Aku dapat satu kursi di PTN bersyukur banget, sungguh! Dari puluhan ribu orang banyak yang berharap bisa belajar di PTN. Gak usah jauh-jauh deh, banyak temenku gagal. Aku bersyukur banget Allah mengabulkan doa-doaku selama ini. Tujuanku kejar PTN biar bisa nunjukin ke keluarga kalo aku tuh bisa, tapi sebagian dari mereka malah bilang, itu hanya keberuntungan. 
     Emangnya ketok magic apa bisa langsung jadi gitu. Kenapa aku naruh Bahasa & Sastra Indonesia di prioritas kedua dan Ekonomi Pembangunan di prioritas ketiga karena di buku Passing Grade bimbelku peminat Bahasa & Sastra Indonesia lebih banyak dari Ekonomi Pembangunan. Jadi, aku gak sembarangan putusin sesuatu. Jangan mentang-mentang ekonomi, terus lebih hebat dari Bahasa Indonesia gitu?
     Jangan sok tau tentang segalanya, kebanyakan omong malah kamu terlihat bodoh. Berjuang di SBMPTN biar dapetin kursi di PTN tuh kayak lari di atas pecahan kaca. Kalo kamu gak hati-hati, kamu akan terluka oleh pecahan kaca tersebut. Aku seperti orang yang udah berdarah-darah berjuang lewatin pecahan kaca itu tapi gak dihargai. Mungkin mereka akan menghormati aku ketika aku sudah berada diatas mereka. Mereka tidak mau tahu bagaimana sulitnya, sehingga mereka tidak pernah menghargai sesuatu yang bernama perjuangan. Kenyataannya, mereka lebih menghormati orang yang sukses karena kekayaan orangtuanya dibandingkan dengan perjuangannya orang itu sendiri. 
Karena prinsip aku sejak kelas 3 SMA, "PTN itu harga mati!" Tak apa, Tuhan tidak tidur kok. Tuhan lebih menyukai orang yang berusaha dan berdo'a untuk menggapai satu persatu mimpinya.

Buscar

 

Labels

About

Ma Petit Histoire Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger